Selasa, 29 Juli 2008

hendak kemanakah sebenarnya kita akan pergi jangan lupa liang lahat menganga menunggu kita

setinggi tingginya terbang bangau akhirnya kembali kekubangan pula, sesombong secongkak seria ujub takabur dan bermegah2 toh tiada yang dapat menolak takdir, bolehlah berbuat jahat seenaknya namun sulit mendapat tempat yang layak dikemudian hari, ingat api neraka jahanam api yang bahan bakarnya manusia sedangkan surga adnan mengalir air yang jernih menenangkan buah2an dan semua cantik muda2 kekal di dalamnya

1 komentar:

sakartulmaut sebuah ilusi pengalaman pribadi mengatakan...

Janganlah begitu diucapkan sampai 3 kali, ngana ya ngana ya aja ngana, kitu ya kitu tapi ulah kitu teuing, teungteuingen, telenges, ngaya, lupa diri, ulah hiap kana purwa daksinya, orang kaya mampu memberi, orang miskin mampu berpuasa dan tawadhu, orang yang dilebihkan berjalan di atas jalan yang bermanfaat bagi dunia akhirat, salam kepada sesama berdoa kepada yang Maha Kuasa, ya terimakasih atas tulisannya, silahkan tulis terus dan baca terus amalakan dengan fikiran, ucapan dan perbuatan selamat berkarya demi umat yang berada didunia fana agar tidak tersesat jadikan Al Qur'an dan Hadis sebagai pedoman hidup dan peta dalam berjalan di rimba dunia ini okey tulis terus ya

Makna Hidup

Foto saya
Tangerang, Banten, Indonesia
Dengan kesibukan duniawiah sering terlupakan alam akhirat, darimana asal sedang dimana dan hendak kemana, sering kita abaikan persiapan hari depan akhirat bahkan sering ingin melupakannya sama sekali, padahal keduanya harus dipersiapkan baju kebaya dan baju kain kafan sama pentingnya, rumah tempat tinggal dan rumah tempat penguburan RIP sama harus dipersiapkan