Rabu, 30 Juli 2008

Kapan bangsa indonesia menghargai bangsanya secara seutuhnya

salah satu indikator penghargaan bangsa terhadap manusianya adalah dapat diukur dari berapa besar rasio pendapatan dengan beban biaya hidup dalam kurun waktu tertentu contoh upah minimum regional/propinsi/kabupaten/kota sebesar Rp.1.000.000,-perbulan perorang sedangkan beban biaya hidup untuk makan, minum, kesehatan, tranportasi, sandang dan biaya kos total Rp.2.000.000,- perorang perbulan artinya bisa diasumsi (Rp.1.000.000,-/Rp.2.000.000,-= 0,5) = 1/2 artinya dihargai separuh manusia, sebagian lagi 1/2nya tanggung jawab sendiri ini adalah suatu bahaya laten ancaman dan godaan setan/iblis, kalau harga-harga cenderung stabil ya lumayan, lha ini loncat-loncat bukan lagi deret hitung tetapi deret ukur cenderung kuadrat, bagi orang yang kuat iman maka dampak positif dapat diharapkan membuka usaha sampingan diluar jam kerja, berdagang, mengajar, berojek, mengajar, privat, Multi Level Marketing, atau buka wirausaha sambilan lainnya untuk menutupi kebutuhan separuh kebutuhan hidupnya, bagi yang nerimo ya sudah apa adanya ojo neko-neko berpuasa lah irit-irit itung-itung efisiensi walau tahan-tahan mana tahan, lha bagi yang nekat gambling aduh hantam kromo neh godaan berat cobaan hebat, ngobyek di jam kerja tak ada bedanya urusan kerja kantor dengan urusan rumah tangga ya podo wae, cenderung kasak kusuk nyata, kolusi, korupsi dan nepotisme, wah wah ini menyangkut mental bangsa men, sangat tipis bedanya antara yang hak dan bathil, kinerja menurun, bekerja minimalis

Selasa, 29 Juli 2008

hendak kemanakah sebenarnya kita akan pergi jangan lupa liang lahat menganga menunggu kita

setinggi tingginya terbang bangau akhirnya kembali kekubangan pula, sesombong secongkak seria ujub takabur dan bermegah2 toh tiada yang dapat menolak takdir, bolehlah berbuat jahat seenaknya namun sulit mendapat tempat yang layak dikemudian hari, ingat api neraka jahanam api yang bahan bakarnya manusia sedangkan surga adnan mengalir air yang jernih menenangkan buah2an dan semua cantik muda2 kekal di dalamnya

Malaikatkah yang berjubah putih dan berjubah coklat

Dalam ketidak berdayaan atas kuasa yang maha pengasih dan penyayang suatu hari di batas kemampuan fisik manusia dihadapkan dengan dua sosok yang berjubah putih dan berjubah coklat, tidak nampak jelas rupa muka yang nampak jelas jubah dan nada suara yang bisa dipahami dalam bahasa ibu, jubah putih bersuara halus dan mendu menanyakan siapa tuhanmu aku jawab lailahailallah dan jubah coklat tegas keras dan garang ucapkan lailahailallah dengan sertamerta menginjak kedua belah kakiku sehingga terhenyak jiwa terlepas dari raga, aku sempat melihat ragaku tertinggal terbaring di tempat tidur dan jiwa melayang di atasnya untuk masuk dalam suatu lingkaran berbentuk kapsul seukuran badanku yang menyala seperti lampu neon yang berputar kencang, saat bersentuhan seperti terasa tersengat listrik ribuan volt, raga/badanku terberak dan terkencing betapa hebatnya menahan rasa sakit yang tiada terkira, tetapi saat berhasil masuk dalam kapsul siap untuk terbang tiba-tida si jubah putih berseru "tungggu!", "belum saatnya, kembali!", maka tidak lama kedua berjubah dan kapsul sirna menghilang dan tak lama telingaku berdesing lambat laun mendengar hiruk pikuk sekeliling dan sadar apa yang sebenarnya telah terjadi

Makna Hidup

Foto saya
Tangerang, Banten, Indonesia
Dengan kesibukan duniawiah sering terlupakan alam akhirat, darimana asal sedang dimana dan hendak kemana, sering kita abaikan persiapan hari depan akhirat bahkan sering ingin melupakannya sama sekali, padahal keduanya harus dipersiapkan baju kebaya dan baju kain kafan sama pentingnya, rumah tempat tinggal dan rumah tempat penguburan RIP sama harus dipersiapkan